Thursday, October 29, 2015

Batuk Pilek Bayi


Batuk Pilek Bayi

lagi-lagi si Kecil batuk pilek lagi...musti gimana yah? padahal sudah kesana sini dapat obat macam2, ternyata ada hal yang harus kita ketahui


Seorang bayi seharusnya jarang sakit karena masih ditopang imunitas tinggi sewaktu dikandung atau menyusu ibunya. Penyakit sehari-hari seperti flu (yang ditandai panas, batuk, pilek), penyakit virus lain, atau bahkan infeksi kuman dapat ditolaknya. Sejak lama fakta ini telah disadari. Coba saja, bila bayi Anda tinggal serumah dengan seseorang penderita campak, maka biasanya ia tidak akan gampang tertular.

Namun nyatanya, banyak anak dan bayi menjadi pelanggan dokter setiap 2 - 3 minggu karena penyakit yang sama, bolak-balik demam, batuk, dan pilek. Sampai orang tuanya tidak tahu harus bagaimana lagi. Pencetus penyakit pada anak memang sulit ditentukan karena dapat bermacam-macam, misalnya lingkungan kurang sehat, polusi tinggi, dan ada perokok di rumah. Penggunaan penyejuk udara (AC) di malam hari bisa menimbulkan alergi suhu dingin, membuat hidung anak mampet sehingga ia harus bernapas lewat mulut. Kipas angin dipasang di kamar tidur yang lalu meniup debu ke segala penjuru kamar. Belum lagi penularan virus di sekolah dan tempat-tempat ramai seperti mal. Juga perawat yang sedang batuk dan pilek. Tak langka pula kejadian sakit gara-gara mengonsumsi makanan ringan tidak sehat yang membuat tenggorokan tergelitik.


Batuk dan pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi, observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun. Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya.

Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk dan pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Selain mubazir, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek sampingan berbahaya. Kalau dikatakan akan mempercepat penyembuhan pun tidak, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol berulang kali sejak ditemukannya antibiotik di tahun 1950 - 1960-an. Hasilnya selalu sama sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.

Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya, anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi. Orang tuanya lalu langsung membeli antibiotik di apotek atau pasar hanya karena setiap kali ke dokter mereka diberi obat tersebut.

Lingkaran setan ini: sakit - antibiotik - imunitas menurun - sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas, batuk, dan pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun. Komplikasi juga sering akan terjadi yang akhirnya membawa anak itu ke kamar perawatan di rumah sakit.

Pengalaman menunjukkan, bila antibiotik dicoret dari resep (sementara obat batuk dan pilek yang adekuat diberikan), setelah 1 - 3 bulan, si anak tidak akan gampang terserang penyakit flu lagi. Pertumbuhan badannya pun menjadi lebih baik.

Salah kaprah kedua ialah gejala batuk dan pilek yang tidak diobati secara benar, artinya siasat pengobatan perlu diubah. Ini lantaran obat jadi yang dijual di apotek tidak selalu dapat mengatasi masalah setiap penderita. Bahkan, sering terjadi batuk dan pilek malah menjadi lebih parah dan berkepanjangan.

Suatu perubahan yang mendasar dan individual dalam resep, perlu dilakukan untuk memutus lingkaran setan panas, batuk, dan pilek ini. Yang utama ialah menghentikan antibiotik, tidak memberikan kortikosteroid secara terus-menerus, menghentikan pemberian obat penekan batuk dan menggantinya dengan bronkodilator, serta memberikan campuran obat pilek yang baru. Efedrin dosis kecil - dicampur dengan antihistamin yang efektif - merupakan obat pilek terbaik. Sementara, semua obat yang ternyata tidak terbukti efektif perlu dihentikan.

Terakhir, yang tidak kalah penting, carilah faktor pencetus yang dicantumkan di awal tulisan ini. Bila ditemukan, hindarilah. Semoga anak Anda tidak perlu lagi begitu sering berobat karena flu! Selamat mencoba!


Wednesday, October 28, 2015

Akibat OrangTua Pilih Kasih ke Anak



Akibat OrangTua Pilih Kasih ke Anak
Apakah Anda sudah menjadi ibu yang adil terhadap anak-anak di rumah? Studi menunjukkan bahwa ibu yang memperlihatkan pilih kasih atau favoritisme terhadap salah satu anaknya akan meningkatkan potensi depresi terhadap anak-anaknya yang lain saat dewasa.


Pakar Universitas Cornell Karl Pillemer dan sosiolog Universitas Purdue Jill Suitor melakukan penelitian terhadap 275 keluarga besar terkait efek berbahaya yang menimpa anak saat mereka dewasa. Penelitian juga menilai faktor-faktor luar seperti ukuran keluarga dan ras. 


Favoritisme yang dilakukan orangtua memperjelas dampak kesehatan mental anak. "Favoritisme ibu berpengaruh pada perkembangan psikologis anak, bahkan setelah mereka tumbuh dewasa dan memulai keluarga sendiri," kata Pillemer, Profesor Departemen Pembangunan Manusia dan di Cornell's College. 

"Persepsi perlakuan pilih kasih merusak psikologis anak-anak yang lain yang  akan mereka terapkan pada keluarga yang mereka bangun," seperti dikutip dari Aol Health. Studi ini memperjelas detail timbulnya masalah perilaku pada anak, remaja dan dewasa muda akibat ibu yang pilih kasih.

Pillemer berharap temuan ini bisa membuka terapi penanganan masalah keluarga dan mencegah konflik yang timbul akibat prilaku pilih kasih. Hasil penelitian dipublikasikan dalam Journal of Marriage and Family edisi April 2010.

Tuesday, October 27, 2015

Terlalu Banyak Minum Susu, malah Kurang Baik untuk Anak Mengapa? Temukan Ulasannya disini...



Terlalu Banyak Minum Susu, malah Kurang Baik

Sering kita mendengar orangtua yang menawarkan, kadang sedikit 'memaksa' Anak untuk meminum Susu. Selain rasanya yang gurih, susu memiliki banyak kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh. Kandungan vitamin D dan kalsiumnya yang tinggi membuat susu merupakan asupan yang penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi anak.

Tapi tahukah Anda bahwa ternyata ada batasan dalam konsumsi susu sehari-hari, khususnya susu hewani seperti susu sapi? Berdasarkan penelitian yang dilakukan Jonathon Maguire, pakar kesehatananak dari rumah sakit St. Michael's Toronto, Kanada, anak-anak usia 4 – 12 tahun membutuhkan maksimal 2 gelas susu dalam sehari.

Mengapa hanya 2 gelas sehari? Menurut Jonathon, susu memang memenuhi kebutuhan vitamin D yang baik bagi tulang dan gigi. Tetapi bila dikonsumsi terlalu banyak, susu akan memberikan efek buruk bagi darah. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan pada 3.800 anak di Kanada, Jonathon menemukan fenomena berkurangnya kadar zat besi dalam darah pada anak yang mengonsumsi susu lebih dari dua gelas setiap hari. Risiko kurangnya zat besi dalam tubuh, bisa menyebabkan radang usus, kelelahan menahun, hingga gagal jantung.


“Penelitian ini sukses membuktikan apa pun yang dikonsumsi secara berlebihan memang tidak baik bagi tubuh, tidak terkecuali susu segar ataupun olahan. Jadi, konsumsilah susu hanya sekitar 470 mililiter atau setara dengan dua gelas tiap harinya,” tegas Jonathon

Mengenal Demam pada Anak



Mengenal Sekilas Demam pada Anak


Demam merupakan peningkatan suhu tubuh di atas normal. Menurut Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K) , anak dikatakan  demam apabila suhu tubuh yang diukur dari ketiak menunjukkan suhu di atas 37,5 C. Selanjutya suhu tubuh diukur setiap 6 jam, apabila hanya pada satu kali pengukuran saja sepanjang hari tersebut ditemukan suhu diatas normal, tidak dianggap demam. Dikatakan demam, apabila anak ditemukan paling sedikit dua kali pengukuran suhunya di atas normal.  Namun, sepanjang dia masih aktif, orang tua tidak perlu terlalu khawatir, karena berarti anak belum menderita sakit berat. Tanda anak sakit berat akan terlihat sayu, tidur gelisah, tidak mau main, tidur terus sepanjang hari, aktivitas menurun, nafsu makan menghilang, rewel, dan lain sebagainya.


Demam Bukanlah Penyakit

Menurut dr. Yuni Kurnia, Sp.A, demam bukanlah penyakit tetapi merupakan gejala atau pertanda akan datangnya suatu penyakit. Demam dibedakan :

     Demam tidak tinggi, terjadi saat anak ataupun orang dewasa kekurangan cairan atau dehidrasi, sehingga suhu tubuh menjadi naik.


    Demam tingggi, terjadi saat infeksi virus atau bakteri menyerang, sehingga terjadi peningkatan pirogen (zat pencetus panas). Infeksi antara lain menyerang saat kulit terluka, infeksi pernafasan, infeksi telinga, influenza, selesma, campak, demam berdarah, TBC, typhus, infeksi saluran kemih, dan lain sebagainya. Saat virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, sel darah putih melepaskan beberapa zat, termasuk pirogen yang berfungsi mengerahkan sel-sel darah putih ke lokasi untuk menyerang patogen dan juga menimbulkan panas sebagai mekanisme untuk melawan patogen. Selain karena infeksi, demam juga bisa disebabkan inflamasi (peradangan), keganasan  (misal, penyakit tumor, kanker), bayi saat tumbuh gigi, maupun gangguan pada pusat syaraf pengaturan suhu tubuh.


Obat Penurun Panas

Kapan saat yang tepat untuk memberikan obat antipiretik atau penurun panas pada anak? Jika anak tidak menunjukkan perilaku kegawatdaruratan, ceria, aktif, masih bisa bermain, dan suhu tubuhnya masih di bawah 38 C, maka obat antipiretik belum diperlukan. Perlu diingat bahwa obat antipiretik hanya berfungsi untuk menurunkan panas saja, namun tidak mengobati penyebab demamnya. Namun, jika anak gelisah, rewel, tidak nyaman, lemas, dan suhu tubuhnya di atas 38 C, maka segera berikan obat antipiretik. Berikan obat antipiretik yang aman untuk anak, seperti parasetamol, asetaminofen, dan ibuprofen sesuai dengan takaran dan usia anak. Hentikan pemberian obat saat suhu tubuh mulai turun, supaya tidak menutupi gejala yang akan memberikan petunjuk mengenai penyakit yang menyerang.



Pertolongan Pertama

Bila suhu tubuh anak terasa panas, orang tua tidak perlu terburu-buru ke dokter. Berikan pertolongan pertama dengan :

1. Biarkan anak istirahat ditempat yang nyaman. Pakaikan baju yang longgar dan nyaman serta jangan diselimuti kain yang tebal, karena bisa mengganggu keluarnya panas tubuh, kecuali anak menggigil kedinginan.

2. Kompreslah menggunakan air hangat. Jangan gunakan es atau air dingin karena bisa mengakibatkan anak menggigil kedinginan, dan jangan gunakan alkhohol, karena bisa mengakibatkan iritasi kulit. Kompreslah kening, perut, atau bagian-bagian tubuh lain yang panas.

3. Perbanyak cairan dengan minum air putih atau cairan  lain seperti ASI, susu, kuah sayuran, syrup, atau jus buah, untuk menghindari dehidrasi. Hindari makanan berlemak dan makanan yang sulit dicerna, supaya tidak membebani saluran cerna.

4. Jika panas lebih dari 38 C, maka berikan obat antipiretik (penurun panas). Saat demam turun, hentikan pemberian obat antipiretik supaya tidak menutupi gejala penyakit berikutnya.
Jika demam berlanjut, bawalah anak ke dokter untuk mendapatkan pertolongan berikutnya.


Meskipun demam bukanlah penyakit, tapi orang tua harus selalu waspada karena bahaya bisa saja mengancam di baliknya. Apalagi untuk demam tinggi yang berturut-turut selama tiga hari atau demam yang naik turun, disertai kondisi anak yang semakin lemah, maka perlu dilakukan observasi yang lebih mendalam oleh dokter.